Monday, 28 January 2019

Meeting In Love

Sabtu, 07 Mei 2016

Meeting in Love




Sinar mentari pagi mulai menyinari Jakarta. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.40 dan tidak ada tanda-tanda bahwa mobil di depanku akan maju dalam waktu satu menit ke depan. Memang salahku, bangun kesiangan, tapi bukankah hari Senin adalah hari yang penuh kesialan? Hari pertama masuk kerja dan hari penting bagiku, karena hari ini untuk pertama kalinya aku akan menangani proyek besar, pembangunan mall ternama di Jakarta. Sedangkan di sinilah aku, berjuang mengarungi lautan mobil yang diam tak kunjung bergerak barang sedikit pun.
Nada dering untuk pesan masuk berbunyi, mengalihkan perhatianku dari padatnya jalanan pagi ini.
Maaf, Bapak Tanaka, nantinya Anda tidak bisa langsung membicarakan proyek ini dengan CEO kami melainkan dengan saya. Beliau sudah menunggu selama 30 menit tapi Anda tidak kunjung datang, sehingga beliau mengutus saya untuk menangani proyek ini dikarenakan beliau juga ada janji lain yang tidak kalah penting. Maaf untuk ketidaknyamanan ini. Saya mohon Anda nanti ke Meeting Room yang ada di lantai 5 kantor kami. Saya tunggu kedatangan Anda. Semoga Anda tidak membatalkan kerja sama ini. Terima kasih. Darian.
Dengan membaca pesan tersebut, rasanya ingin bisa menjadi superman supaya aku bisa langsung terbang bebas tanpa hambatan. Semoga saja, aku tidak dipecat oleh temanku sendiri gara-gara masalah ini.


Sambil menyelam minum air, itulah yang sedang kulakukan sekarang. Seraya berjalan cepat melewati lobi yang ya-Tuhan-luas-sekali, aku pun merapikan dasi dan kerah kemeja.
Bruuuk!
Naas, kemeja favoritku menjadi sasaran utama jatuhnya secangkir kopi. Dalam waktu sekejap semua kegiatan di lobi terhenti dan pandangan tertuju ke arahku. Namun, tidak berapa lama kemudian keramaian kembali menenggelamkan suara kami.
“Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Maafkan saya ” kata seseorang yang kuyakini sebagai tersangka atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa, aku yang salah tidak memperhatikan jalan. Mari,” jawabku tenang, meskipun rasanya ingin berteriak meneriaki semua orang. Dengan tangan bebas, kuambil tissue yang selalu ada di tas kerjaku dan membersihkan noda kecoklatan bekas kopi yang tumpah tadi.
Tanpa membuat perkara tersebut lebih panjang lagi, aku pun kembali melangkah dengan cepat menuju lift yang hampir tertutup.
“Terima kasih,” kataku kepada seorang wanita yang menahan pintu lift tadi dan memberiku ruang, mempersilakan aku untuk ikut masuk. Tangan kananku yang tadinya ingin menekan tombol lima berhenti di udara, karena ternyata kami menuju lantai yang sama.
Dia hanya menoleh sedikit dan membalas dengan senyuman yang tak sampai ke mata. Merasa bahwa lawan bicaraku diam, aku pun mengambil langkah, “Wah ternyata kita menuju lantai yang sama. Namaku Aga,” kataku memperkenalkan diri sambil menawarkan tangan.
“Arleen,” jawabnya singkat lalu menerima uluran tanganku.
“Arleen,” panggilku seolah sudah kenal dekat, “boleh, kan aku panggil namamu langsung?” tanyaku meminta persetujuan saat melihat raut muka ketidaksukaan yang dia tampakkan saat aku memanggil namanya. Dia mengangguk, tanpa menjawabnya. “Kamu kerja di sini?” lanjutku, sambil melanjutkan mengusap-usap bagian depan kemejaku yang kotor.
“Iya,” jawabnya singkat. Sepertinya dia bukan tipe orang yang suka bicara pada orang asing dan aku termasuk orang asing baginya, maka dari itu untuk membuat dia nyaman, kubiarkan keheningan tercipta di antara kami sampai lift berhenti di lantai lima.
Kami berdua keluar bersamaan dan masing-masing menuju arah yang berbeda. Aku pun dengan gembira melangkah ke arah ruangan yang tepat berada di seberang pintu lift bertuliskanmeeting room. Oh betapa mudahnya menemukan ruangan tersebut di gedung perkantoran sebesar ini. Awalnya kukira kantor yang dimaksud untuk pertemuan kami adalah di mall tetapi ternyata mereka memiliki gedung khusus untuk kegiatan perkantoran mereka. Betapa kayanya pemilik mallini.
Seseorang menepuk pundakku bahkan sebelum tanganku berhasil menyentuh kenop pintu. “Maaf, Anda Bapak Tanaka?” tanya seorang wanita dengan name tag Riana.
“Iya, ada apa ya?” tanyaku keheranan, sedangkan dia membalasku dengan senyuman.
“Maaf, Pak. Tadi saya diberi pesan untuk mengantarkan Anda ke ruangan beliau jika Anda sudah datang. Mari saya antarkan.”
Aku pun dengan patuh mengikutinya sampai ke sebuah ruangan bertuliskan Arleen Darian. Arleen? Bukankah wanita yang tadi di lift bersamaku bernama Arleen? Bukankah Darian adalah wakil CEO yang berhubungan denganku melalui email membicarakan masalah kerja sama pembangunan ini? Menjawab kebingunganku, duduklah dia di sana, di balik meja kebesarannya.
“Selamat pagi, Bapak Tanaka. Perkenalkan saya Arleen Darian yang akan mewakili Heavenly dalam proyek pembangunan ini,” sambutnya dengan senyuman yang sekali lagi, tidak sampai ke mata.
Hari ini sudah kutetapkan sebagai hari tersialku! Bahkan sejak awal kami bertukar pesan lewat surat elektronik, dia tidak mengoreksi saat aku menuliskan ‘pak’ untuk menyapanya. Salah dia hanya menyisipkan tanda tangan yang terbaca Darian saja di setiap akhir surat. I am so dead!


Tiga bulan berlalu sejak kedatanganku di ruangan Arleen. Kami rajin bertukar pesan membicarakan masalah pekerjaan. Tanpa kusadari makin lama aku juga makin tertarik padanya. Seperti saat ini, melihatnya duduk dengan santai di hadapanku meneguk secangkir teh hijau di sela-sela pembicaraan serius kami membuatku merasa nyaman dan tenang. Untuk masalah nama belakangnya, dia sudah memberitahuku ketika awal pertemuan kami bahwa memang banyak orang salah mengira, sama sepertiku, dan dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya dia menyematkan A. Darian di bawah tanda tangan elektroniknya, tapi siapa kira A untuk Arleen? Semacam J.K Rowling, bukan? Dahulu sebelum dia terkenal di media seperti sekarang, apakah orang dapat menebak bahwa dia perempuan hanya dengan membaca namanya?
“Pak Aga?” panggilnya menyelamatkanku dari lamunan. Ya, aku memang sering tertangkap basah ketika sedang mengamatinya dalam diam.
“Ada apa? Dan sepertinya aku sudah pernah bilang, ketika kita tidak sedang di kantor kamu boleh memanggilku Aga, Arleen, tanpa embel-embel pak di depannya,” jawabku panjang lebar, yang sebenarnya sangat out of topic.
“Maaf, Pak Aga, saya tidak terlalu nyaman seperti itu,” jawabnya yang seketika membuatku kecewa. Aku pun hanya tersenyum. “Apakah kita sudah selesai?”
“Apanya yang sudah selesai, Arleen, bahkan kita belum jadian,” candaku. Seperti biasa, cara ini tidak berhasil. Sudah beberapa kali aku mencoba memberi kode padanya dengan candaan-candaanku yang bisa dibilang garing ini, tapi tidak ada satu pun yang termakan olehnya. Entah aku yang memang hopeless romantic atau dia yang kurang peka.
Melihat tingkahnya yang ingin segera pergi membuatku menyerah dan berkata, “Iya, pertemuan kali sudah selesai. Sampai bertemu lagi, Arleen.” Tanpa menunggu waktu lama, dia pun segera mengambil dompetnya. Namun sebelum mengeluarkan selembar uang, aku segera menahan tangannya, “Biar aku saja, Arleen, man pays the bill.”
“Tapi, Pak —”
“Kamu melukaiku, Arleen,” kataku dengan memasang raut muka kecewa. Namun melihatnya mengangguk seketika raut mukaku berubah dan itu membuatnya mendesah. Menyadari tanganku yang masih saja menggenggam pergelangan tangannya, membuatku langsung melepaskannya meskipun tidak rela.
Sebelum dia berhasil berdiri dari posisi duduknya, aku menahannya lagi, untuk yang kesekian kali, “Arleen, besok malam kamu kosong?”
Dia pun menghentikan niatnya untuk berdiri dan kembali duduk. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan, “Memangnya ada apa, Pak?”
Aku pun mendesah pak lagi pak lagi dan menjawab, “Aku ingin mengajakmu makan malam.”
Dia diam. Inilah yang kutakutkan, ia akan menolakku. Tapi sudah aku bulatkan tekad bahwa aku harus menerima apa pun jawaban dia. Masih tetap diam, dia pun beralih mengeser layar ponselnya, mengabaikanku. Mungkin sedang melihat jadwalnya, pikirku. Belum genap semenit pun dia menjawab, “Maaf, Pak, saya sudah ada janji.” Tidak bisakah dia berpikir lebih lama dan menjawab ‘ya’?
Ia menolakku. Hanya dengan enam kata itu, pupus sudah harapanku saat itu. Aku bilang, saat itu. Karena ketika esok harinya saat kami bertemu lagi, aku akan mencoba lagi, lagi, dan lagi, hingga dia mengiyakan ajakanku.


Meskipun gagal mengajak Arleen makan malam hari ini, aku tetap keluar. Seperti biasa, yang kulakukan setiap malam minggu, bertemu beberapa teman lama hanya untuk sekadar mengobrol ala kadarnya. Aku dan beberapa teman kuliahku sedang duduk dan mengobrol asyik di sebuah kafe saat sosok yang kukenal lewat di depan kafe tempat kami nongkrong. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, hanya untuk membuntuti mereka.
Di sanalah aku melihat mereka. Di depan loket pembelian tiket bioskop, mereka berdua terlihat adu pendapat tentang film apa yang akan mereka tonton. Entah mengapa melihat mereka berdua beradu pendapat, yang malah terlihat romantis, membuat hatiku nyeri seperti tertusuk duri.
Aku kalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti mengejar impianku dan melepasnya begitu saja, meskipun ada kata ‘tidak rela’ yang tertahan di kerongkongan. Karena pada dasarnya seorang kakak tidak akan pernah tega pada adiknya sendiri.


“Ga, kok kayaknya gue nggak pernah lihat lo jalan sama cewek ya? Jangan-jangan lo homo lagi!” kata Adam padaku tiba-tiba pada suatu sore.
“Sewot aja. Emang lo sendiri pernah jalan sama cewek?” tanyaku sewot.
“Pernahlah, kemarin Sabtu baru aja gue nge-date sama doi,” jelasnya yang langsung seketika itu juga membuatku teringat akan malam di mana aku membuntuti mereka berdua, “Eh gimana kalo gue cariin, malulah gue masak kakak gue dateng sendirian di acara nikahan gue gitu.”
“Nikah?! Yakin banget lo kalo dia mau lo nikahin,” jawabku tak kalah sengit.
“Ih, kenapa hari ini lo sewot banget sih, Ga? Lagi mens kali ya?”
“Iya! Udah minggir sana, gue lagi sibuk!” usirku, tak ingin lagi mendengar cuap-cuapnya mengenai apa yang terjadi waktu malam minggu.
“Pokoknya gue bakal ngenalin lo sama sahabat gue. Mau nggak mau lo harus mau. Titik!” katanya sebelum keluar dari kamarku.
Bagaimana aku mau kamu jodohkan, Dam, kalau yang aku inginkan itu pacar kamu.


Semenjak mengetahui hubungan antara Adam dan Arleen, aku pun hilang semangat setiap mendapat pesan masuk dari Arleen atau ketika bertemu dengannya untuk urusan bisnis. Bahkan pada beberapa pertemuan, aku meminta tolong salah satu dari keempat temanku untuk menggantikanku bertemu dengan Arleen. Sebisa mungkin aku mencoba mengurangi intensitas komunikasi kami. Untung saja, aku bekerja dengan keempat temanku dalam perusahaan yang kami dirikan sendiri, ArchFive, sehingga kami tidak terlalu banyak memiliki peraturan ketat kecuali masalah dateline pekerjaan.
Tapi, sayangnya hari ini adalah pertemuanku yang terakhir karena aku sudah selesai mendesain mall sesuai keinginan mereka, tinggal pembangunan yang selanjutnya akan dikerjakan oleh temanku dan akan sangat tidak sopan bila aku menyuruh seseorang untuk menggantikanku. Dengan berat hati, aku pun berangkat menuju ke kafe tempat kami biasanya membicarakan proyek ini.
“Maaf saya terlambat,” sapaku di awal pertemuan kami hari ini, yang sekaligus menjadi pertemuan terakhir kami. Ingin rasanya setelah ini kami tidak bertemu lagi, meskipun hanya sekadar berpapasan. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat dikabulkan.
“Saya juga belum lama, kok, Pak Aga,” jawabnya dengan senyuman, yang entah kenapa hari ini terlihat bebas dan tulus. Mungkinkah dia merasa senang karena akhirnya kami bisa berhenti bertemu?
“Mari kita mulai diskusinya,” ajakku. Semenjak mengetahui hubungan adikku dengannya, aku mengusahakan diriku sendiri untuk bersikap lebih formal padanya. Pernah suatu kali, aku melihat raut keterkejutannya saat mendengarku mengatakan sapaan-sapaan formal dan menggunakan ‘saya’ di sesi diskusi padahal sebelumnya aku terbiasa dengan ‘aku.’ Semua itu kulakukan untuk membatasi hubungan kami, atau lebih tepatnya membatasi diriku sendiri supaya tidak terlalu jauh berharap padanya, yang nantinya dapat berdampak ada hubungan kami ketika kami sudah resmi menjadi saudara ipar.
Diskusi serius kami terhenti begitu saja ketika sapaan seseorang di belakangku menginterupsi. “Wah wah wah ternyata kalian sudah saling kenal!”
“Adam, kamu kenapa bisa di sini?” tanya Arleen, menampakkan raut senang yang sangat kentara. Bahkan denganku dia selalu dalam mode ‘saya-Anda’ tapi sekarang?
“Aku mau menyapa kakakku,” jawab Adam bangga sambil menepuk pundakku, “Ini kakakku, Linlin.” Bahkan mereka sudah punya panggilan sayang.
Adam mempersilakan dirinya sendiri duduk di sebelah Arleen bahkan tanpa perlu repot untuk meminta persetujuan kami. Tak lupa mengecup pipi kekasihnya di hadapanku, yang seketika membuat mataku sakit. Mereka berdua berbicara asyik, Arleen terlihat lebih lepas, dan Adam terlihat begitu menyayangi Arleen. Menyadari bahwa kehadiranku hanyalah sebagai pemeran figuran yang sudah tidak diperlukan lagi, aku pun berdeham untuk meminta perhatian kedua pasangan yang sedang dilanda asmara lalu berpamitan untuk pulang duluan.
“Yah, Ga! Malah pulang duluan sih. Gue ke sini emang nggak sengaja ngelihat kalian berdua. Disamperin malah sekarang ditinggal,” kata Adam membuatku memutar bola mata.
“Ayolah, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Aku pergi dulu,” jawabku bersikeras untuk meninggalkan mereka.
“Lo kenapa sih, akhir-akhir ini ketus sama gue. Masak mens lo nggak kelar-kelar sih,” komentar Adam yang seketika membuatku malu luar biasa.
Mengacuhkan Adam, aku pun berkata, “Udah, gue tunggu undangannya. Arleen, saya duluan.” Lalu mulai melangkah pergi.
“Undangan apaan sih?” tanya Adam dengan nada keheranan. Please tidak perlu bertingkahsok bego, Adam.
“Nggak tau, emang siapa yang mau nikah, Dam? Kamu?” tanya Arleen balik, masih dengan suara lembutnya.
“Heh heh woy Ga, ngeloyor aja lo. Duduk lagi sini, gue bingung. Siapa yang mau nikah sih? Orang gue baru aja putus,” kata Adam sembari mendudukkanku kembali ke tempat semula, berhadapan dengan mereka.
Menghela napas dengan lelah, aku pun menjawab, “Ya, undangan kalian berdua.”
Dua detik. Lima detik. Mereka saling berpandangan. Dan .....
Brrrrr. Hahahahaha.
“Gue? Sama Linlin? Nggak bakal lah, Aga, abang gue tercinta. Gue udah kapan kali kenal Linlin, udah kayak adek gue sendiri masak gue nikahin. Incest dong gue.”
Mendengar itu, aku pun bertambah bingung. Kalau Arleen adik Adam berarti? Jangan, jangan sampai terjadi! Sedangkan Arleen yang kupandang hanya tersenyum malu menampakkan rona kemerahan di kedua pipinya. Sepertinya Adam mulai membuat teorinya dan pada saat sudah pada titik kesimpulan mulailah dia berkata, “Gila! Gara-gara ini abang gue sensi? Lo cemburu sama gue, Ga?”
Beberapa pengunjung menatap ke arah meja kami. Aku hanya bisa menahan tangan untuk tidak menepuk kepala kosongnya itu. “Lin, lo harus ngaku ke abang gue! Cepetan!”
“Maksud kalian apa? Saya bingung,” kataku menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Satunya meringis ketawa ketiwi, satunya lagi tersenyum malu-malu.
“Udah, Ga, nggak usah saya saya. Berasa ngomong sama bos gue aja,” candanya. Melihat wanita di sampingnya yang tidak kunjung angkat bicara, Adam pun mewakilkan, “Gini lho, abang gue terganteng. Gue sama Linlin nggak pacaran atau apapun itu yang ada di pikiran lo.”
“Tapi kalian nonton bareng, terus lo juga makcomblangin gue maksudnya apaan?” desakku pada mereka atau lebih tepatnya Adam.
“Nonton kapan? Sering kali, kita nonton, kan emang kalo sama sahabat yang biasa dilakuin ya kalo nggak ngobrol ya nonton. Apa salahnya? Oh pasti lo sotoy ya! Hahaha kasian kasian abang gue! Lah ini tadi gue samperin emang mau gue makcomblangin eh malah jadinya begini.”
“Gue masih nggak paham. Terus pacar lo, Dam?,” kataku.
“Pacar gue lagi di negeri antah berantah, nggak kuat LDR jadi putus deh. Nah gue sama Linlin murni dari dulu juga cuma sahabatan, malah pengen gue ngejadiin dia adek gue.”
“Terus cium pipi tadi?”
“Dibilangin udah biasa kita gituan, biasa aja kali! Linlin ini, yang dulu waktu SMP suka main ke rumah, yang lo ejekin jerawatan,” kata Adam yang sontak membuatku teringat akan gadis remaja dengan banyak jerawat di muka dan rambut dikuncir kuda. “Linlin juga udah dari kapan kali, Ga, suka sama lo!”
Mendengar pengakuan Adam, membuat Arleen menyikut perutnya dengan siku dan Adam mengaduh kesakitan.
“Jadi kamu Arleen. Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa,” kataku sambil menepuk kening.
“Ya lo kan pikun!”
“Diem lo!” bentakku pada Adam, lalu kembali lagi pada Arleen, “Arleen, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, sekarang kamu cantik banget kok,” ujarku tanpa perlu menahan diri untuk merayunya.
“Udah deh gue tinggal kalian berdua,” kata Adam sambil beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pundakku dan berkata, “Abang saya sudah dewasa,” dan pergi sebelum berhasil aku lempar dengan sesuatu. Sangat tidak sopan meniru gaya bicara kakaknya sendiri.
Kembali lagi ke hadapanku, akhirnya aku bisa mendekati Arleen lagi dan semua kegelisahan sirna sudah. Seorang Agara Tanaka sudah tidak sensitif lagi!

Ps :  Ini adalah cerpen hasil kolaborasi aku dan via, fyi kita baru kenal loh saat nulis cerpen ini dan via itu keren bgt nulisnya.

Fajar Putih

Senin, 18 April 2016

Fajar Putih

Ceritanya dapet PR buat deskripsiin yang ada di gambar ini. dan taraam jadilah seperti ini. yaah udah masuk flash fiction lah ya ?


Fajar memang selalu menenangkan hatiku. Langitnya yang indah dan sinarnya yang hangat selalu membuatku terpana akan nikmatNya. Masih ingatkah kau kenangan beachcamp kita dulu?
***

"Ayo, liat sunrise. Banguun!" Pintanya menghampiri tendaku. Aku dan Dita memang tidur di tenda terpisah. 
"Masih pagi, ntar aja yaa" jawabku sembari ngulet
"Gak  mau nanti matahari nya keburu tinggi" rajuk dita manja
"Iyaa bentar" jawabku malas. 
Akhirnya kami berduapun berjalan menyusuri pantai untuk melihat moment matahari terbit ini. Menyusuri jalan sepanjang pantai untuk mencari tempat terbaik melihat momen ini. aah enakan tidur di camp lah pikirku. Namun demi dita apapun akan ku perjuangkan. Demi kekasihku yang telah menjadi bagian hidupku selama 5 tahun ini. Aku memang belum menikah dengan Dita namun aku berjanji akan memperistrinya nanti. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat kami telah melewati roller coaster kehidupan bersama. Bahkan ketika aku berada di titik terendahku dan perempuan ini masih setia menemani. Aku sangat mencintai Dita, bagiku Dita adalah separuh jiwaku. 
"Hen, kita liatnya disini aja yaa" kata dita sambil menghentikan langkahnya. 
"Baiklah" jawabku singkat sambil memperhatikan sekitar. Sepertinya ini memang tempat yang indah untuk melihat sunrise. Tempat ini cukup sepi, matahari terlihat jelas dan diapit dua buah pohon sebagai pemanisnya. Ditambah lagi suara deburan ombak yang masih terdengar jelas. Apalagi ada dita disampingku, sempurna. Ah, mulai saat ini aku akan suka fajar, terimakasih tuhan engkau telah memberikan nikmat yang tak terkira ini. 
"Hen, tempat ini aku namain pohon kita yaa," kata dita 
"Iyaa sayang terserah kamu ajalah" kataku sambil mengusap rambut dita.
"Pokokny kita harus sama-sama terus yaa!" Pinta dita

***
Kurasa fajar tetap akan selalu memenangkan hatiku bahkan jika kamu tidak memilih aku. "Dit, aku sekarang lagi berdiri di pohon kita." Gumamku lirih. 
Mataku masih menatap matahari pagi ini dengan duka yang tak kunjung berakhir. Masih berharap Dita akan membatalkan pernikahannya dengan Rio sahabatku.


Ps : Foto diambil dari google mblusuk.com :)

Dialog Aku, Kamu

Selasa, 16 Februari 2016

Dialog Aku, Kamu



Ketika hujan datang, kamu berteduh
Ketika petir datang, kamu lari
Ketika rintik menari, kamu tak  muncul
Lalu kapan kamu datang?
Ketika ada pelangi, ah sudahlah aku tau jawab mu.

Ketika kamu menangis, aku bahu mu
Ketika kamu terjatuh, aku obat mu
Bahkan ketika kamu tak ada, aku rindu mu
Lalu kapan aku pergi?
Kamu tak bisa jawab, ah sudahlah aku tau kenapa

Akan kah ada dialog antara aku dan kamu?
Ku yakin sekarang hatimu punya jawaban


Depok, 15 Februari 2016

Gadis yang bersenandeng dibawah Pohon

Senin, 02 November 2015

Gadis yang Bersenandung dibawah Pohon



Di bawah pohon rindang itu aku melihatmu
Seorang gadis berpakaian sederhana lengkap dengan warna pastelnya
Lembut sekali seraya menggambarkan kelembutan hatinya
Belum lagi rambut mu yang diterpa angin semilir, ah indahnya

Aku sering bertanya padanya
Kenapa kau sering berdiam disana?
Dan dia menjawab hanya rindu seseorang
Andai kau tau seberapa ingin aku mendengarkan kerinduan mu

Hari ini aku melihatmu dibawah pohon rindang itu
Namun tak seperti biasa
Bukan senyum yang kudapat dari kejauhan
Tapi sendu dari isak tangis tak tertahan

Hai gadis yang masih berada di ruang rindu
Apakah kamu tau seberapa ingin ku menenangkan mu
Seberapa ingin ku memelukmu dan menjadikan bahuku sandaran mu
Seberapa ingin aku menciumimu di saat kau kacau

Hai gadis yang tersenyum dibawah rindangnya pohon
Aku harap suatu nanti aku bisa mengungkapkan nya
Suatu nanti aku bisa menunjukkannya
Bahwa aku telah jatuh hati berkali kali
                                     
Dari Aku yang tak bisa mengungkapkan
Bogor, 28 Oktober 2015

Hai Kamu.. Iya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2015

Hai Kamu.. Iya Kamu!

Hai kamu
Kamu datang mengetuk pintu hati yang telah tertutup rapat
Entah, aku tak tau maksud kamu mengetuk pintu
yang aku tau aku tidak menerima jika ada tamu yang tak diundang datang!
tapi kamu terus mengetuk pintu itu keras-keras bahkan mungkin terdengar makin keras

aku tak ingin ada sesuatu diantara kita
karena menurutku perasaan itu akan mengusik hidupku yang sudah baik ini
aku tak mengerti beribu kali pintu itu tak terbuka dan kamu masih berusaha saja
Rasanya kamu terlalu kuat untuk dapat aku tahan sendiri, entaah

  Hai kamu!
  Aku baru bertemu yang seperti kamu, yang siap diguyur hujan di depan pagar
yang siap diterpa debu dan disengat teriknya matahari selama itu
hanya untuk diijinkan masuk rumah dan singgah di ruang tamu, bahkan mungkin tak diberi minum
waaw aku sempat terpikir sejenak olehmu

aku tak tau sampai kapan kamu begitu
dan aku mulai terpikir kalau mungkin saja kamu yang aku cari?
atau mungkin jangan-jangan ternyata kamu?
ah , itu hanya pikiran ku sejenak saja
kalimat pastinya mungkin aku sudah dibuat mu nyaman…

Cahaya di Ujung Jalan

Senin, 13 April 2015

Cahaya di Ujung Jalan


Lautku tak pernah diam
Tak pernah dusta dan meninggalkan asa
Lautku tak pernah berkata
Ia hanya berdesir dengan ombak yang tak kunjung henti
           
Tak banyak yang ku lakukan disini di sebuah tempat yang tak punya apa-apa hanya bermain bersama pantai, menjadi anak pantai hitam legam dan sekali lagi tak punya apa-apa bahkan listrik tak  ada disini, gelap ya gelap gulita. Kata ibu hanya sekolah yang akan menjadi penerangnya. Entah ibuku berkata benar atau tidak. Aku hidup di sebuah desa kecil di pinggiran pulau jawa di provinsi banten. Desaku memang dekat kota namun alangkah ironisnya jika kau tau disini nyala lampu pun tak ada. Yang terkenal disini hanya seorang penguasa perempuan yang dikenal akan kecantikan dan kekayaannya. Kekayaan yang entah didapat lewat jalan apa orang bilang sih korupsi.
            “man, ayoo berangkat nanti kamu kesiangan” suruh ibuku
            “iya bu aku berangkat” kataku lalu mencium tangan ibuku dan pergi
Sekolahku memang berjarak 20 km dari rumahku di pesisir. Bagi kami masyarakat pesisir berjalan jauh untuk sekolah itu sudah hal yang biasa. Oleh karena itu banyak teman sebayaku yang tak meneruskan sekolah mereka meneruskan hidup menjadi pelaut dengan turun temurun. Aku beruntung masih bisa bersekolah sampai tingkat sekolah menengas atas, entah mengapa ibuku ingin sekali aku sekolah namun tidak dengan ayahku entah mengapa juga ia tak pernah rela anaknya sekolah.
            Setiap berangkat dan pulang aku pasti berada dalam kegelapan, kegelapan ketika pagi menjelang dan kegelapan ketika senja dan tanpa cahaya. Jalan-jalan itu gelap taka da cahaya di ujung jalan karena aku tau taka da lampu di desa kami. Listrik belum masuk kesini. PLN (Perusahaan Listrik Negara) pernah kesini namun tak melanjutkan pembangunannya kembali. Hanya warga yang kaya yang mempunyai genset di rumah yang dapat menghadirkan listirk dan kami para anak nelayan hanya dapat melihat dari kejauhan cahaya itu karena kami tak pernah merasakan langsung manfaatnya.   
Terkadang sang kaya baik hati meminjamkan rumahnya sebentar untuk kami para anak-anak miskin pesisir menonton televisi. Miris rasanya padahal letak kami tak sebegitu jauh dari ibu kota Negara ini
***
“Man gimana, kamu ngelanjutin sekolah?” Tanya herwan teman baikku
“Kamu sendiri gimana?” tanyaku balik
“enggak man, aku tetap jadi nelayan. Atau bantu-bantu ibuku ngurusin rumput laut” jawab herwan
“tapi wan” kataku belum menerima
            “hidup kita memang sudah di laut man, terima saja itu nasibmu” kata herwan dengan penuh keyakinan
            Aku pun terdiam dengan perkataan teman baik ku itu. Menurutku kitalah yang harusnya jadi pemutus rantai itu. Kita lah yang harus bergerak maju. Kamipun saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Dan bel sekolah berbunyi menandakan kami harus masuk kelas lagi.
            “hari ini bapak ingin menyampaikan berita baik. Teman kita ada yang mendapat undangan dari institute pertanian bogor” kata pak guru mengawali kelas
            “waah siapa yaaa” anak-anak kelas mulai ramai tak sabar
            “ yang mendapat undangan yaitu lukman” kata pak guru
            “ waah beneran pak?” tanyaku masih tak percaya
            “iya nanti pulang sekolah kamu ke ruangan saya ya untuk mengisi berkas-berkasnya”
            “Siap pak”
            “waaah selamat yaa man” kata herwan dan dilanjutkan teman-teman sekelas
            Sepulang sekolah aku riang bukan kepalang, aku berkesempatan untuk kuliah. Satu hal yang tak terbayangkan dari seorang anak nelayan sepertiku. Aku akan merantau dan memperbaiki semuanya. Aku akan mengubah nasib anak-anak pesisir. Semuanya akan lebih bercahaya.
***
            “bu, bu, aku dapet undangan” kataku riang sambil mencari-cari ibu
            “hah, apa itu?” kata ibuku bingung
            “jadi aku bisa kuliah bu, aku bisa kuliah di bogor” kataku senang
            “syukur lah coba kamu bilang sama ayahmu” kata ibu turut senang
            Tiba-tiba dari depan pintu munculah ayah dengan beberapa tangkapan ikan hari ini
            “eh, lukman udah pulang sekolah, besok bantu ayah ya melaut” suruh ayahku
            “tapi aku harus sekolah yah” jawabku pelan
Suasana sempat hening sampai ibuku datang menghampiri ayah “ yah, si lukman dapet undangan dari sekolahnya. Katanya dia bisa kuliah di bogor”
            “bener man?” Tanya ayah sambil mengkerutku dahinya
            “iya yah. Lukman bisa kuliah”
            “ buat apa man kamu sekolah, kuliah buat apa kita ini nelayan rejeki kita ya di laut”
            “tapi yah lukman bisa mengubah keadaan kita” kataku bersikeras
            “kita tetap nelayan man jangan lupakan hal itu”
            Aku termenung ingin rasanya aku teriak mengungkapkan segala perasaan ku. Aku ingin sekolah aku ingin bisa kuliah. Membangun desa tanpa nyala lampu ini. Aku ingin mengubah semuanya. Tapi tak ada yang bisa ku lakukan atau mungkin.
***
            Rasanya belum berapa lama aku meninggalkan desa ini, meninggalkan desa kelahiran dengan semua kisahnya yang ada. Aku kembali bukan karena aku telah sukses, bukan juga karena aku sudah punya tujuan, bukan. Aku hanya mampu bertahan 4 semester di Bogor dan harus menanggung malu untuk pulang. Aku datang karena ayahku. Ayahku yang seorang pelaut harus kehilangan nyawa di tengah laut. Aku harus kembali mengarungi lautan dan untuk memenuhi ibu dan adik-adikku.
            “man kau kembali?” Tanya herwan
            “iya” jawabku singkat
            “jadi apa kau sekarang? Dapet apa kau disana?” Tanya herwan lagi
            “aku kesini untuk melaut” jawabku pendek lalu pergi dengan kapal dan jarring di tangan
            Aku kembali menjadi nelayan seperti ayah, kakek dan mungkin kakek buyudku. Menutup telinga dari cibiran tetangga dan warga desa. Menutup mata dari kejamnya kehidupan pesisir. Entah apa yang diinginkan sang pencipta
Angin laut telah membawaku ke darat menepikan kapal kecilku dan mendaratkan hasil tangkapanku. Menjualnya ke tempat pelelangan ikan kecil di sudut desa lalu mendapat upah dari itu. Hal itulah yang kulakukan berulang kali disini menjadi seorang nelayan dan menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin aku tak merasakan lagi gelapnya rumah karena kini berganti dengan gelapnya malam di laut. Mungkin adik-adik dan ibuku yang merasakannya di rumah.
Hari ini aku pulang ke rumah dengan sisa tangkapan ikan kecil untuk orang rumah. Malam kemarin laut sedang tidak bersahabat.
“man, sudah pulang?” Tanya ibuku
“iya nih bu, ini ada sisa ikan buat dimasak. Oya mana sukma dan deni?” Tanya ku
“masih sekolah mereka” jawab ibu ku lalu mengambil ikan sisa tangkapanku
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku pun dengan sigap pergi ke arah pintu dan membukakannya
            “lukmaaan” teriak seseorang lalu memelukku
            “ baguus”  kataku tak mau kalah
            “ada apa bisa sampai kesini? Mari duduk” tanyaku heran. Lalu aku mengajaknya ke ruang tamu kecil dengan bangku seadanya di rumahku.
            “ingin mengunjungimu saja. Aku sempat teringat ceritamu saat dulu. Sayang sekali kamu tak bisa melanjutkan hingga selesai” kata bagus mengawali. Bagus adalah teman se departemenku waktu di Institut Pertanian Bogor
            “yah begitulah hidup” kataku sambil tersenyum “ada apa ya?”
            “jadi begini. Kamu ingat pelajaran bioenergy dulu? Yaa aku ingin mengembangkan potensi rumput laut disini. Daerahmu terkenal dengan rumput lautnya bukan?”
            “iyaa rumput laut kita memang terkenal sampai ada pabrik baru disini”
            “nah aku ingin mewujudkan cita-citamu aku ingin membuat desamu ini tak gelap gulita lagi ketika malam. Aku sudah survey kemarin dan memang benar saat malam desa ini seperti tak berpenghuni hahaha” kata bagus sambil tertawa
            “hahaha. Memang begitu disini. Benarkah? Aku akan dukung dan membantumu sebisaku”
            “iya kita akan membuat biogas dari rumput laut dan mengembangkan desa ini”
            “baiklah kita akan mulai dari sosialisasi warga terlebih dahulu” kataku lalu bersalaman dengan bagus
***
            “bu, tau gak ya disini mau ngapain?”
            “Gak tau kita dikumpuli aja sama si lukman, gak tau deh ada apa ya”
Desas-desus ibu-ibu di balai desa setelah dikumpulkan. Ada yang senang tapi lebih banyak yang ngedumel karena menganggu jam tidur siang mereka.
            “selamat siang bu” kataku mengawali “hari ini kita kedatangan tamu dari Bogor, beliau ini mau buat desa kita terang saat malam”
            “perkenalkan saya bagus, temannya lukman waktu di bogor” bagus memperkenalkan diri
            “beliau ini udah sarjana jadi pasti bisa bikin desa kita jadi terang”
            “gimana caranya man? Mau dipasangin listrik dari dulu kita udah minta kan tapi gak pernah dipasang juga sama PLN” kata warga desa
            “iya man lagi juga bayar listrik mahal, saya gak sanggup deh” sambung yang lain
            “ iya man, gak deh” sambung warga lalu warga ramai berdiskusi
            “tenang, ibu-ibu saya tidak akan memasang PLN kita ingin membuat listrik dari rumput laut” kataku coba menenangkan warga
Ternyata warga malah semakin ramai mereka tak percaya bahwa rumput laut dapat menjadi biogas yang akan menyalakan lampu.
            “tenang ibu-ibu semuanya kita gak akan pakai semua rumput laut hanya sisa-sisa yang tidak termanfaatkan saja. Jadi nanti kita akan buat pengumpulan rumput laut dan kita buat penampung dan nantinya akan kita fermentasikan dan menjadi biogas” kata bagus menjelaskan
            “waah apa lagi tuh?” Tanya warga semakin bingung
            “jadi tenang saja semuanya nanti itu kita yang akan bikin. Jadi semuanya tinggal mengumpulkan rumput laut dan nanti di desa kita akan terang” jelas ku lagi
            “man, kamu bisa jamin gak kita bakal punya lampu?” Tanya salah seorang warga
            “saya dan teman saya akan menjamin itu. Kalau desa kita akan penuh cahaya saat malam” kataku meyakinkan
            “yaudah kalo gitu aku setuju, aku bantu man”
            “iya saya juga bakal bantu
            “saya juga” akhirnya para warga menyetujui kegiatan ini
            Setelah mendapat persetujuan warga aku dan bagus berjuang untuk membuat segala yang diperlukan untuk biogas ini. Kami membangun tempat penampungan dan tiap hari berkunjung ke warga untuk menjelaskan progam kami. Walau mendapat persetujuan di balai desa tidak langsung memudahkan langkah kami. Banyak warga desa yang juga terang-terangan menolak kegiatan ini. Tak segan aku dan bagus dimarahi dan menjadi cibiran di desa.
            Aku mengalami pasang surut kehidupan apalagi sejak kematian ayahku yang nelayan dan aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Tak jarang aku mendengar cibiran warga tentangku apalagi setelah aku yang  harus pulang kembali dan hanya menanggung malu dari Bogor. Tapi aku yakin inilah saatnya.
            Bak penampungan rumput laut sudah terbuat, rumput laut sedikit demi sedikit sudah disetor oleh warga. Aku dengan sedikit ilmu ku dibantu Bagus berusaha mewujudka cahaya di desa ini. Berusaha mewujudkan sepenggal kisah perubahan untuk desaku
            “man, gimana, mana lampunya gak nyala-nyala nih?” protes seorang warga
            “sabar pak” kataku coba meneangkan
            “ah tau gitu rumput lautnya tak jual semua”
            “sebentar lagi ya pak”
            Keluhan demi keluhan datang silih berganti warga semakin tak percaya, padahal ini semua butuh waktu. Butuh waktu untuk memasang instalasi ke rumah-rumah. Dan butuh waktu untuk membuat penampungan ini terfermentasi dan menjadikan biogas.
***
            “ka, lukman teman-teman aku masa gak percaya kalo kaka bisa bikin lampu nyala” kata deni. Adikku yang paling bungsu
            “tenang aja den, nanti kakak buktiiin yak e temn-temen kamu kalo nanti lampu bisa nyala. Nanti desa kita bisa jadi terang” jawabku meyakinkan
            “jangan ganggu kakak kamu den” kata ibu ku
            “gapapa bu, anak kecil emang suka penasaran” jawabku sambil tersenyum
            Raut mukaku tersenyum namun hati dan perasaan mungkin tak bisa berbohong aku pun cemas mengapa biogas ini belum berhasil. Bagus mengatakan kalau kita masih kurang bakteri tapi entahlah aku memang kurang paham. Yang aku paham adalah ketidakpercayaan warga yang kian menjadi. Warga masih butuh banyak pembelajaran untuk mengetahui kalau proses itu tidak pernah semudah itu. Di satu sisi Bagus pun mulai tak yakin akan proyeknya.
            “Man, aku rasa proyek ini harus berakhir” kata Bagus bimbang
            “kenapa begitu?” tanyaku heran
            “sudah lebih dari 6 bulan dan hasilnya masih nihil” kata bagus pasrah
            “kita harus tetap berjuang. Kita harus menyelesaikannya, aku yakin sebentar lagi” kataku coba meyakinkan
            “energy ini belum mampu untuk menghidupi desa, setidaknya kita butuh lebih banyak rumput laut lagi, dan warga sudah bosan”
            “ setidaknya kita harus tetap berusaha. Ini baru 6 bulan kau tau kami telah menanggung gelap gulita ini lebih dari 6 tahun bahkan sudah lebih dari 60 tahun”
            “aku akan berusaha lebih keras lagi. Ini cita-citaku dari kecil jangan biarkan semua ini berakhir. Kita butuh cahaya” kataku lalu pergi meninggalkan bagus
            Semenjak kejadian itu kami berusaha lebih giat untuk membuat yang kami bisa dan mencoba membujuk warga yang tidak mau bergabung. aku berusaha lebih keras dan lebih keras lagi aku yakin cahaya itu akan tiba. 
***
“lampu sudah menyala” ungkap salah seorang warga
            “waah makasih yaa, sekarang anak-anak udah bisa belajar kalo malem” tambah yang lain
            Cahaya itu datang, cahaya itu telah ada menyusuri desaku kini. Walaupun cahaya ini masih redup tapi setidaknya dengan cahaya yang masih redup ini anak-anak sudah dapat belajar ketika malam. Desa ini sudah seperti ada kehidupan lagi saat malam. Secercah cahaya itu sudah datang ke hati dan ke ruang- ruang di desa ini. Tak perlu takut akan kegelapan lagi ketika malam menjelang. Setelah lampu sudah mulai menyala para wargapun semakin antusias membantu dan bergotong royong untuk semakin memancarkan cahayanya. Kini di ujung-ujung jalan itu tak hanya sang kaya yang dapat menikmati indahnya cahaya. Akupun kini tersenyum di ujung jalan ini.

Lautku akan tiba waktunya
Waktu dimana cahaya itu akan tiba
Cahaya itu telah datang

Datang dari kamu yang tak pernah kusangka 

Ketika 2 jam dipaksa untuk berkarya dan hasilnya seperti ini lah hehe :D
JUARA 2 TULIS CERPEN FMAC 2015

Awan Mendung

Sabtu, 27 Desember 2014

Awan Mendung

Awan mendung selalu menyelimutinya, seperti duka yang tak kunjung padam
Derai hujan nampaknya selalu membayanginya hingga pelangi enggan berjumpa
Awan mendung itu laksana tembok raksaksa penghalang marabahya
Tapi tanpa disadari awan mendung itu justulah bahaya

Awan mendung itu datang lagi, bagai mau tak mau menurunkan hujan
Entah mengapa awan itu tak kunjung pergi, hilang atau enyah dari dirinya
Mungkin karena terlalu banyak air yang mengisi celahnya 
atau belum ada yang sempurna bisa menghilangkan air di dalamnya, entahlah

Awan mendung itu tak kunjung pergi, padahal sang surya telah mengisyaratkannya
Sang Surya hanya ingin dia kembali, kembali layaknya dulu
Bahkan Pelangi rasanya lelah untuk berkata sebentar lagi
Tak ada mendung, tak ada hitam dan tak ada kelam

Awan mendung menyapa lagi, entah siapa yang disapa
Bahkan hati sang surya bagai terkoyak  setiap kali dia datang
Awan mendung entah mengapa kau hanya mengganggu
Satu harap sang surya agar pelangi cepatlah datang 


Di sudut rahasia di tengah awan yang mulai mendung, 28 Desember 2014