Saturday, 23 March 2019

Indonesia Raya di Pelosok Negeri

Beberapa waktu yang lalu sempat dihebohkan dengan kebijakan kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga)

tentang menyanyikan lagu Indonesia Raya di Bioskop yang lalu menuai pro-kontra di kalangan masyarakat dan seketika kebijakan itu langsung dicabut.

Lalu ingatanku flashback ke masa penempatan pengajar muda. Betapa beruntungnya aku yang tinggal di Desa yang didalamnya terdapat Kompi Senapan A Yonif 115, Aceh Singkil. Berada di pelosok negeri, jauh dari hingar bingar perkotaan dan himbauan nasionalisme.

Kami di Desa merasakannya, ikut mematung ketika Lagu Indonesia Raya berkumandang saat pagi dan senja menjelang.  Ketika fajar kami dibangunkan oleh nyanyian lagu nasionalisme, bagun pemuda-pemudi, ibu pertiwi dan sederet lagu wajib nasional yang menggema seantereo desa.

Kami tak pernah protes, ketika lagu itu mengusik pagi kami. Kami juga tak pernah protes harus mematung dan khidmat ketika dilaksanakan Apel Pagi dan Sore saat sangsaka merah putih dinaikan/diturunkan.

Kami tak bilang kalau kami lebih nasionalis, karena kami pun sedang berproses. Tapi kami percaya semoga lagu-lagu itu terus terngiang di otak kami dan menanamkan rasa nasionalisme di hati kami. Setidaknya kami pernah mendengar lagu itu, walau berada di pelosok negeri.


Anak-anak SD N Lae Bangun, Kab. Aceh Singkil

Proses Seleksi Menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar

Menjadi Pengajar muda? Setahun mengabdi Selamanya Menginspirasi. Hai disini aku akan sharing pengalaman aku dalam proses recruitment Indonesia Mengajar menjadi Pengajar Muda XV. Sebelumnya apa sih Pengajar Muda atau yang biasa disingkat PM, PM adalah sebutan untuk Pengajar Muda adalah generasi muda terbaik bangsa yang direkrut, dilatih dan dikirimkan oleh Indonesia Mengajar untuk mengabdi di masyarakat sebagai guru di pelosok Indonesia selama 1 (satu) tahun (indonesiamengajar.org).
Indonesia Mengajar melakukan dua kali Seleksi PM, Awal tahun dan tengah tahun (Juli-Agustus) kebetulan aku mengikuti seleksi ditengah tahun yaitu untuk PM XV. Singkat cerita aku mendaftar Indonesia Mengajar dan mengetahui info pembukaan dari Broadcast yang disebar via Whatsapp. Waktu itu adalah batas terakhir pendaftaran PM dan aku memberanikan diri untuk mendaftar (alasan kenapa bisa segila itu untuk ikutan IM nanti aku post di selanjutnya yaa). Naah, sekarang adalah step by step #JadiPM
#1 Hal pertama yang kamu lakukan adalah mengisi aplikasi Online yang ada di Website.
Website nya https://indonesiamengajar.org lalu di pojok atas akan ada tulisan daftar dan silahkan buat akunmu. Setelah itu silahkan pilih Gabung Jadi Pengajar Muda!
#2 Selanjutnya kalian akan dihadapkan pada tantangan pertama.
Untuk melengkapi Aplikasi Pengajar Muda kalian akan melengkapi beberapa informasi yaitu INFORMASI DASAR. Pada halaman ini kalian akan diminta untuk melengkapi informasi data diri, profil online (Nama Facebook, Blog dan daring lainnya) Profil Foto (Pastikan Foto kalian gak alay yaa :p) lalu beberapa pertanyaan tambahan.
- Selanjutnya kalian akan melengkapi INFORMASI KONTAK di halaman ini kamu akan mengisi informasi terkait nomor yang bisa dihubungi dan alamat. Pastikan data yang kamu isi benar ya!
- Setelah selesai kalian akan melengkapi bagian PENDIDIKAN dimana kalian akan diminta melengkapi dimana tempat studi kalian. Yak syarat utama menjadi bagaian dari Pengajar Muda adalah sudah menempuh pendidikan S1 yaa. Jadi pastikan syarat ini sudah kamu lengkapi. Nah di halaman ini kamu bisa banget nih promosikan diri kamu dengan menulis kamu pernah mendapatkan beasiswa apa saja, pernah mengikuti konferensi apa saja? Nah It’s Your Time!
-PENGALAMAN nah mulai bagian ini nih yang biasanya bikin kamu bingung. Yak kalian akan diminta melengkapi beberapa pertanyaan seputar pengalaman yang pernah kamu ikuti selama ini. Ingat Based On Your Experience yaa, nanti akan ada pertanyaan apa kontribusi tebesar kalian. Jadi ingat Kejujuran itu yang utama.
-ESSAI kalian akan mengisi sepuluh pertanyaan terkait bagaimana penyelesaian masalah dan cara kalian dan menempatkan diri dalam suatu masalah. Tiap essay akan diberi maksimal kata jadi silahkan di isi dengan ringkas tapi jangan sampai lupa apa pesannya yaa. Untuk essay ini usahakan buat dengan kaidah STAR S (Situation : Situasi apa yang sedang terjasi) T (task : Tugas/peran apa yang kalian emban) A (Action : Aksi apa yang kalian lakukan) R (Result : Hasil apa yang kalian dapatkan. Ingat hasil tak selamanya berhasil tapi selalu ada pembelajaran ke depan yang dapat kita petik) nah setelah itu semua kalian lakukan, jangan lupa EYD nya yaa.
-REFERENSI Silahkan isi kontak orang-orang yang dapat menjadi sumber informasi tentang diri kamu. Usahakan orang tersebut sangat mengenal baik diri kamu yaa (Karena ada sebagian PM yang di kontak referensi yang diberikan). Fungsinya apa sih? Tentu saja meyakinkan kalau kamu layak menjadi PM.
  • SUBMIT! Jangan lupa tekan Submit :)
Selanjunya Selamat mencoba, semoga berhasil dan Jangan lupa berdoa!
#3DIRECT ASSESMENT INDONESIA MENGAJAR
Aku masih ingat saat itu kala itu aku sedang berada di Kamarku lalu sebuah pesan singkat masuk “Assalamualaikum, saya *** dari Indonesia Mengajar. Sebelumnya apakah Batari sudah membuka email karena telah diterima untuk mengikuti tahap Seleksi Selanjutnya yaitu Direct Assesment
Waaa aku langsung kaget karena aku terpilih menjadi 200 orang yang mengikuti Direct Assesment, untuk Informasi Jumlah Pendaftar Indonesia Mengajar di angakatan XV menjadi rekor yang tertinggi yaitu 21k . waktu itu aku langsung membuka email dan ternyata notifikasi tersebut masuk ke dalam SPAM dan waktu Direct Assesment yang dijadwalkan yaitu 2 HARI LAGI! (Sesungguhnya waktu yang diberikan setelah notifikasi lolos ke DA itu cukup lama namun karena email masuk ke SPAM, jadi buat kamu sebaiknya juga cek spam emailmu.). 
Lalu di Email tersebut juga dijelaskan rangkaian seleksi yaitu Microteaching dan aku mendapatkan pelajaran Matematika Kelas 1 dengan sub tema Nama-Nama hari. Tak lama aku langsung meghubungi temanku yang merupakan guru SD untuk mengajariku apa itu Microteaching dan ini materi apa?. Buat aku yang mungkin belum pernah mempunyai pengalaman mengajar formal bisa jadi ini adalah tantangan pertama.
Akhirnya waktu DIRECT ASSESMENT (DA) tiba, aku ikut dalam DA di Jakarta. Untuk Info DA biasanya diselenggarakan di beberapa Kota Besar di Indonesia Jadi pantengin terus portal Indonesia Mengajar yaa untuk infonya.
Aku datang pagi sekali ke Gedung yang ditunjuk sebagai tempat DA lalu aku melakukan registrasi berkas. Setelah semua siap kami digabungkan di satu ruangan dan dijelaskan alur DA. Proses DA memakan waktu satu hari dengan tes integrated yang padat. Dalam satu hari DA berjumlah sekitar 20 orang yang nanti akan dibagi menjadi kelompok kecil. Tes Direct Assesment meliputi tes TPA, FGD (Focus Group Discussion), Microteaching, Diskusi Kelompok, Wawancara dan Psikotest.
TPA (TES POTENSI AKADEMIK)
Yaa tes TPA ini seperti tes TPA yang umum, ada aritmatika, pola, deret. Bagi kalian yang udah lupa gimana tes TPA kalian bisa langsung Browsing untuk ini. Tips nya kerjakan soal yang kalian anggap mudah walau tidak berurutan ya.
FGD (FOCUS GROUP DISCUSSION)
Dalam FGD kami dibagi menjadi sebuah tim kecil yang mana kami akan dihadapkan dengan sebuah permasalahan, lalu terdapat juga beberapa tindakan yang menjadi solusi dari masalah tersebut. Kami diminta untuk mengurutkan jawaban-jawaban tersebut dan menentukan mana yang menjadi prioritas pertama dan selanjutnya. Dalam FGD ini tidak ada yang benar dan salah, dalam forum ini kita akan dilihat bagaimana cara kita menyampaikan pendapat dan bagaimana kita menerima pendapat juga mencari solusi jika ditemukan deadlock dalam diskusi. Jadi tipsnya mempertahankan pendapat kita baik tapi ingat sampaikan dengan cara yang baik, dan jika tidak terima lah dengan baik. Disini juga bukan dicari yang paling dominan tapi bagaimana cara kita dalam berkolaborasi.
MICROTEACHING
Salah satu sesi dalam proses seleksi yang menakutkan tapi juga paling menyenangkan. Microteaching atau praktek mengajar, jadi kami para calon PM akan berperan menjadi PM yang sedang mengajar di kelas dengan materi yang sudah diinfokan sebelumnya. Lalu teman-teman yang lain dan para Tim Rekruitmen dan berpura-pura menjadi murid dengan skenario yang berbeda yang sudah ditentukan oleh Tim Rekrutmen. Aku sendiri mendapatkan materi Matematika Kelas 1 tentang nama-nama hari. Aku mempersiapkan media ajar yaitu Kalender yang sudah tidak terpakai yang sudah ku tempelkan nama-nama hari disana aku juga membawa mainan untuk menarik perhatian anak-anak. Ternyata tantangan ku kali itu adalah menangani anak-anak yang pasif. Teringat kala itu aku bernyanyi, bermain di depan kelas dan anak-anak krik krik krik tidak ada yang ngewaro hahahha. Skenario tidak terbatas disitu, ada yang anak tiba-tiba ngompol di kelas, orang jualan, atau yang ekstrim ada Bapak-bapak yang ke sekolah bawa parang. Hmmm menarik dan menggemaskan sekali bukan.
DISKUSI KELOMPOK
Sesi ini melihat bagaimana cara kita dalam berkelompok nantinya saat menjadi pengajar muda. Saat itu kelompok kami diberikan sebuah persoalan yaitu mengenai PM yang akan mengadakan acara bagaimana kami sebagai Tim mempresentasikan Progam yang kita buat ke hadapan Dinas Pendidikan disana? dan progam seperti apa yang akan kita buat?. Kelompokku dulu mempresentasikan untuk membuat sebuah kemah yang akan diselenggarakan untuk para komunitas dan relawan. Tipsnya Seperti biasa Sampaikan Pandangan/Gagasan Kalian dengan cara yang baik dan persilahkan tim kalian juga berbicara. Disini akan terlihat bagaimana jiwa kepemimpinanmu dan gagasan-gagasan yang bisa jadi keluar sangat spontan. Kaya tiba-tiba buat jargon untuk kelompok :)
WAWANCARA
Wawancara akan dilakukan 1 on 1, kalian akan diwawancarai oleh Tim Rekrutmen yang tentu saja adalah orang yang professional. Tips nya jangan panik, jujur dan jadilah diri sendiri. Saat wawancara kalian akan ditanya mengenai Essay yang kalian tulis dan memastikan apa yang telah kalian tulis di essay. Jadi ada baiknya kalian menyimpan essay kalian dan membacanya ulang. Wawancara berlangsung mengalir banget kok jadi santai aja dan ceritakan yang jujur dan sesuai pengalaman kalian.
PSIKOTEST
Setelah semua rangkaian proses selesai kalian akan dikumpulkan menjadi satu ruangan kembali dan menjalani tes terakhir. Tes itu berupa Psikotes gambar, kalian akan diminta menggambarkan pohon, dan menggambarkan orang yang sedang beraktivitas dan menuliskan nama. Aku sendiri menggambar pohon dengan buah seperti biasa hehe lalu aku menggambarkan orang yang waktu itu ada dipikiranku.
Semua rangkaian tes selesai, kamipun diijinkan untuk bertanya jawab tentang proses rekrutmen dan hal-hal yang kalian bingungkan. Good Luck!! Jika kalian lolos kalian akan mendapatkan Email untuk Melakukan #4Medical Check Up (Tes Kesehatan) dan Setelah itu Kalian akan melakukan Penandatanganan Kontrak dan Selamat Kamu akan melaju lagi ke #5Pelatihan Itensif.
Seperti Jargonnya Setahun Mengabdi Selamanya Menginspirasi, bagiku Setahun Belajar Selamanya terinspirasi. GOOD LUCK!

Wednesday, 20 February 2019

Kisah Bocah Penjual Tisue

Jumat, 30 Juni 2017


Kisah bocah penjual tisue

Kisah ini aku tulis saat menjadi Fundraiser Gerai sebuah lembaga amil zakat di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Depok, let's see the story!

Namanya Rizki Ramadhan masih kelas 4 SD yang bersekolah di MASTER (Masjid terminal) Depok (sekolah yang memang di inisiasi untuk anak jalanan dan mereka yang keterbatasan ekonomi). Sama seperti anak-anak, bocah ini riang, lucu dan sangat bersemangat. ada yang sedikit berbeda dengan bocah ini selain bersekolah, ya dia juga sudah bermental pejuang berjualan tisue.

"kamu sekolah gak?" tanyaku suatu saat
"sekolah dong kak, kan pagi siangnya jualan"
"sampe jamberapa?" tanyaku lagi
"sampe abis kak, kadang sampe malem"

Obrolan singkat ini menyadarkanku, kalau masih ada jutaan orang diluar sana yang ingin tetap sekolah, dan harus berjuang melawan keterbatan ekonomi. Sementara aku yang kerjanya cuma disuruh belajar dan makan aja masih sering 'mager' dan banyak mengeluh dengan hal-hal kecil. Masih merasa jadi yang paling giat usahanya, paling susah, terkadang kamu harus menengok kebawah dan bertanya kedalam hati. Sudahkah kamu bersyukur?
Setiap hari dari siang sampai sore hari aku melihat bocah itu berjualan tisue, berkeliling menawarkan kepada semua pengunjung pusat perbelanjaan. Kadang berhenti sejenak, menghapus lelah dan terik lalu melanjutkan jualan kembali.

"Kak, tisuenya kak" pinta bocah itu dengan wajah memelas berharap pengunjung membelinya.

Tak jarang aku juga melihat Rizki dan teman sebayanya yang juga menjual tisue bermain bersama troley bekas belanjaan pengunjung yang tak jarang jadi ajang "hiburan mereka".
Yaa mereka masih bocah.
 

Masih bocah dan punya semangat tinggi, disini aku gak akan bikin kalian berempati untuk membeli tisue dari bocah penjual tisue yang ada di sepanjang jalan raya margonda. Aku cuma ingin berbagi potongan cerita sebagai self reminder untuk lebih bersyukur, lagi dan lagi.

***
Siang hari itu cukup cerah, Rizki dan temannya menghampiri ku di gerai
"Kak, titip tisue nya bentar boleh?" Rizki dan temannya
"Mau ngapain?" kataku.
"Mau sholat dulu kak" Jawab Rizki, "mau sholat biar banyak rezeki" sahut temannya.

Akupun tersenyum ☺


Depok, 30 Juni 2017

Dari seorang yang sedang belajar bersyukur
Sudahkah kamu bersyukur hari ini?

ps: poto rizki akan segera dilengkapi

Monday, 28 January 2019

Meeting In Love

Sabtu, 07 Mei 2016

Meeting in Love




Sinar mentari pagi mulai menyinari Jakarta. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.40 dan tidak ada tanda-tanda bahwa mobil di depanku akan maju dalam waktu satu menit ke depan. Memang salahku, bangun kesiangan, tapi bukankah hari Senin adalah hari yang penuh kesialan? Hari pertama masuk kerja dan hari penting bagiku, karena hari ini untuk pertama kalinya aku akan menangani proyek besar, pembangunan mall ternama di Jakarta. Sedangkan di sinilah aku, berjuang mengarungi lautan mobil yang diam tak kunjung bergerak barang sedikit pun.
Nada dering untuk pesan masuk berbunyi, mengalihkan perhatianku dari padatnya jalanan pagi ini.
Maaf, Bapak Tanaka, nantinya Anda tidak bisa langsung membicarakan proyek ini dengan CEO kami melainkan dengan saya. Beliau sudah menunggu selama 30 menit tapi Anda tidak kunjung datang, sehingga beliau mengutus saya untuk menangani proyek ini dikarenakan beliau juga ada janji lain yang tidak kalah penting. Maaf untuk ketidaknyamanan ini. Saya mohon Anda nanti ke Meeting Room yang ada di lantai 5 kantor kami. Saya tunggu kedatangan Anda. Semoga Anda tidak membatalkan kerja sama ini. Terima kasih. Darian.
Dengan membaca pesan tersebut, rasanya ingin bisa menjadi superman supaya aku bisa langsung terbang bebas tanpa hambatan. Semoga saja, aku tidak dipecat oleh temanku sendiri gara-gara masalah ini.


Sambil menyelam minum air, itulah yang sedang kulakukan sekarang. Seraya berjalan cepat melewati lobi yang ya-Tuhan-luas-sekali, aku pun merapikan dasi dan kerah kemeja.
Bruuuk!
Naas, kemeja favoritku menjadi sasaran utama jatuhnya secangkir kopi. Dalam waktu sekejap semua kegiatan di lobi terhenti dan pandangan tertuju ke arahku. Namun, tidak berapa lama kemudian keramaian kembali menenggelamkan suara kami.
“Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Maafkan saya ” kata seseorang yang kuyakini sebagai tersangka atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa, aku yang salah tidak memperhatikan jalan. Mari,” jawabku tenang, meskipun rasanya ingin berteriak meneriaki semua orang. Dengan tangan bebas, kuambil tissue yang selalu ada di tas kerjaku dan membersihkan noda kecoklatan bekas kopi yang tumpah tadi.
Tanpa membuat perkara tersebut lebih panjang lagi, aku pun kembali melangkah dengan cepat menuju lift yang hampir tertutup.
“Terima kasih,” kataku kepada seorang wanita yang menahan pintu lift tadi dan memberiku ruang, mempersilakan aku untuk ikut masuk. Tangan kananku yang tadinya ingin menekan tombol lima berhenti di udara, karena ternyata kami menuju lantai yang sama.
Dia hanya menoleh sedikit dan membalas dengan senyuman yang tak sampai ke mata. Merasa bahwa lawan bicaraku diam, aku pun mengambil langkah, “Wah ternyata kita menuju lantai yang sama. Namaku Aga,” kataku memperkenalkan diri sambil menawarkan tangan.
“Arleen,” jawabnya singkat lalu menerima uluran tanganku.
“Arleen,” panggilku seolah sudah kenal dekat, “boleh, kan aku panggil namamu langsung?” tanyaku meminta persetujuan saat melihat raut muka ketidaksukaan yang dia tampakkan saat aku memanggil namanya. Dia mengangguk, tanpa menjawabnya. “Kamu kerja di sini?” lanjutku, sambil melanjutkan mengusap-usap bagian depan kemejaku yang kotor.
“Iya,” jawabnya singkat. Sepertinya dia bukan tipe orang yang suka bicara pada orang asing dan aku termasuk orang asing baginya, maka dari itu untuk membuat dia nyaman, kubiarkan keheningan tercipta di antara kami sampai lift berhenti di lantai lima.
Kami berdua keluar bersamaan dan masing-masing menuju arah yang berbeda. Aku pun dengan gembira melangkah ke arah ruangan yang tepat berada di seberang pintu lift bertuliskanmeeting room. Oh betapa mudahnya menemukan ruangan tersebut di gedung perkantoran sebesar ini. Awalnya kukira kantor yang dimaksud untuk pertemuan kami adalah di mall tetapi ternyata mereka memiliki gedung khusus untuk kegiatan perkantoran mereka. Betapa kayanya pemilik mallini.
Seseorang menepuk pundakku bahkan sebelum tanganku berhasil menyentuh kenop pintu. “Maaf, Anda Bapak Tanaka?” tanya seorang wanita dengan name tag Riana.
“Iya, ada apa ya?” tanyaku keheranan, sedangkan dia membalasku dengan senyuman.
“Maaf, Pak. Tadi saya diberi pesan untuk mengantarkan Anda ke ruangan beliau jika Anda sudah datang. Mari saya antarkan.”
Aku pun dengan patuh mengikutinya sampai ke sebuah ruangan bertuliskan Arleen Darian. Arleen? Bukankah wanita yang tadi di lift bersamaku bernama Arleen? Bukankah Darian adalah wakil CEO yang berhubungan denganku melalui email membicarakan masalah kerja sama pembangunan ini? Menjawab kebingunganku, duduklah dia di sana, di balik meja kebesarannya.
“Selamat pagi, Bapak Tanaka. Perkenalkan saya Arleen Darian yang akan mewakili Heavenly dalam proyek pembangunan ini,” sambutnya dengan senyuman yang sekali lagi, tidak sampai ke mata.
Hari ini sudah kutetapkan sebagai hari tersialku! Bahkan sejak awal kami bertukar pesan lewat surat elektronik, dia tidak mengoreksi saat aku menuliskan ‘pak’ untuk menyapanya. Salah dia hanya menyisipkan tanda tangan yang terbaca Darian saja di setiap akhir surat. I am so dead!


Tiga bulan berlalu sejak kedatanganku di ruangan Arleen. Kami rajin bertukar pesan membicarakan masalah pekerjaan. Tanpa kusadari makin lama aku juga makin tertarik padanya. Seperti saat ini, melihatnya duduk dengan santai di hadapanku meneguk secangkir teh hijau di sela-sela pembicaraan serius kami membuatku merasa nyaman dan tenang. Untuk masalah nama belakangnya, dia sudah memberitahuku ketika awal pertemuan kami bahwa memang banyak orang salah mengira, sama sepertiku, dan dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Sebenarnya dia menyematkan A. Darian di bawah tanda tangan elektroniknya, tapi siapa kira A untuk Arleen? Semacam J.K Rowling, bukan? Dahulu sebelum dia terkenal di media seperti sekarang, apakah orang dapat menebak bahwa dia perempuan hanya dengan membaca namanya?
“Pak Aga?” panggilnya menyelamatkanku dari lamunan. Ya, aku memang sering tertangkap basah ketika sedang mengamatinya dalam diam.
“Ada apa? Dan sepertinya aku sudah pernah bilang, ketika kita tidak sedang di kantor kamu boleh memanggilku Aga, Arleen, tanpa embel-embel pak di depannya,” jawabku panjang lebar, yang sebenarnya sangat out of topic.
“Maaf, Pak Aga, saya tidak terlalu nyaman seperti itu,” jawabnya yang seketika membuatku kecewa. Aku pun hanya tersenyum. “Apakah kita sudah selesai?”
“Apanya yang sudah selesai, Arleen, bahkan kita belum jadian,” candaku. Seperti biasa, cara ini tidak berhasil. Sudah beberapa kali aku mencoba memberi kode padanya dengan candaan-candaanku yang bisa dibilang garing ini, tapi tidak ada satu pun yang termakan olehnya. Entah aku yang memang hopeless romantic atau dia yang kurang peka.
Melihat tingkahnya yang ingin segera pergi membuatku menyerah dan berkata, “Iya, pertemuan kali sudah selesai. Sampai bertemu lagi, Arleen.” Tanpa menunggu waktu lama, dia pun segera mengambil dompetnya. Namun sebelum mengeluarkan selembar uang, aku segera menahan tangannya, “Biar aku saja, Arleen, man pays the bill.”
“Tapi, Pak —”
“Kamu melukaiku, Arleen,” kataku dengan memasang raut muka kecewa. Namun melihatnya mengangguk seketika raut mukaku berubah dan itu membuatnya mendesah. Menyadari tanganku yang masih saja menggenggam pergelangan tangannya, membuatku langsung melepaskannya meskipun tidak rela.
Sebelum dia berhasil berdiri dari posisi duduknya, aku menahannya lagi, untuk yang kesekian kali, “Arleen, besok malam kamu kosong?”
Dia pun menghentikan niatnya untuk berdiri dan kembali duduk. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya dia menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan, “Memangnya ada apa, Pak?”
Aku pun mendesah pak lagi pak lagi dan menjawab, “Aku ingin mengajakmu makan malam.”
Dia diam. Inilah yang kutakutkan, ia akan menolakku. Tapi sudah aku bulatkan tekad bahwa aku harus menerima apa pun jawaban dia. Masih tetap diam, dia pun beralih mengeser layar ponselnya, mengabaikanku. Mungkin sedang melihat jadwalnya, pikirku. Belum genap semenit pun dia menjawab, “Maaf, Pak, saya sudah ada janji.” Tidak bisakah dia berpikir lebih lama dan menjawab ‘ya’?
Ia menolakku. Hanya dengan enam kata itu, pupus sudah harapanku saat itu. Aku bilang, saat itu. Karena ketika esok harinya saat kami bertemu lagi, aku akan mencoba lagi, lagi, dan lagi, hingga dia mengiyakan ajakanku.


Meskipun gagal mengajak Arleen makan malam hari ini, aku tetap keluar. Seperti biasa, yang kulakukan setiap malam minggu, bertemu beberapa teman lama hanya untuk sekadar mengobrol ala kadarnya. Aku dan beberapa teman kuliahku sedang duduk dan mengobrol asyik di sebuah kafe saat sosok yang kukenal lewat di depan kafe tempat kami nongkrong. Dengan rasa penasaran yang tinggi, aku pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, hanya untuk membuntuti mereka.
Di sanalah aku melihat mereka. Di depan loket pembelian tiket bioskop, mereka berdua terlihat adu pendapat tentang film apa yang akan mereka tonton. Entah mengapa melihat mereka berdua beradu pendapat, yang malah terlihat romantis, membuat hatiku nyeri seperti tertusuk duri.
Aku kalah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhenti mengejar impianku dan melepasnya begitu saja, meskipun ada kata ‘tidak rela’ yang tertahan di kerongkongan. Karena pada dasarnya seorang kakak tidak akan pernah tega pada adiknya sendiri.


“Ga, kok kayaknya gue nggak pernah lihat lo jalan sama cewek ya? Jangan-jangan lo homo lagi!” kata Adam padaku tiba-tiba pada suatu sore.
“Sewot aja. Emang lo sendiri pernah jalan sama cewek?” tanyaku sewot.
“Pernahlah, kemarin Sabtu baru aja gue nge-date sama doi,” jelasnya yang langsung seketika itu juga membuatku teringat akan malam di mana aku membuntuti mereka berdua, “Eh gimana kalo gue cariin, malulah gue masak kakak gue dateng sendirian di acara nikahan gue gitu.”
“Nikah?! Yakin banget lo kalo dia mau lo nikahin,” jawabku tak kalah sengit.
“Ih, kenapa hari ini lo sewot banget sih, Ga? Lagi mens kali ya?”
“Iya! Udah minggir sana, gue lagi sibuk!” usirku, tak ingin lagi mendengar cuap-cuapnya mengenai apa yang terjadi waktu malam minggu.
“Pokoknya gue bakal ngenalin lo sama sahabat gue. Mau nggak mau lo harus mau. Titik!” katanya sebelum keluar dari kamarku.
Bagaimana aku mau kamu jodohkan, Dam, kalau yang aku inginkan itu pacar kamu.


Semenjak mengetahui hubungan antara Adam dan Arleen, aku pun hilang semangat setiap mendapat pesan masuk dari Arleen atau ketika bertemu dengannya untuk urusan bisnis. Bahkan pada beberapa pertemuan, aku meminta tolong salah satu dari keempat temanku untuk menggantikanku bertemu dengan Arleen. Sebisa mungkin aku mencoba mengurangi intensitas komunikasi kami. Untung saja, aku bekerja dengan keempat temanku dalam perusahaan yang kami dirikan sendiri, ArchFive, sehingga kami tidak terlalu banyak memiliki peraturan ketat kecuali masalah dateline pekerjaan.
Tapi, sayangnya hari ini adalah pertemuanku yang terakhir karena aku sudah selesai mendesain mall sesuai keinginan mereka, tinggal pembangunan yang selanjutnya akan dikerjakan oleh temanku dan akan sangat tidak sopan bila aku menyuruh seseorang untuk menggantikanku. Dengan berat hati, aku pun berangkat menuju ke kafe tempat kami biasanya membicarakan proyek ini.
“Maaf saya terlambat,” sapaku di awal pertemuan kami hari ini, yang sekaligus menjadi pertemuan terakhir kami. Ingin rasanya setelah ini kami tidak bertemu lagi, meskipun hanya sekadar berpapasan. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat dikabulkan.
“Saya juga belum lama, kok, Pak Aga,” jawabnya dengan senyuman, yang entah kenapa hari ini terlihat bebas dan tulus. Mungkinkah dia merasa senang karena akhirnya kami bisa berhenti bertemu?
“Mari kita mulai diskusinya,” ajakku. Semenjak mengetahui hubungan adikku dengannya, aku mengusahakan diriku sendiri untuk bersikap lebih formal padanya. Pernah suatu kali, aku melihat raut keterkejutannya saat mendengarku mengatakan sapaan-sapaan formal dan menggunakan ‘saya’ di sesi diskusi padahal sebelumnya aku terbiasa dengan ‘aku.’ Semua itu kulakukan untuk membatasi hubungan kami, atau lebih tepatnya membatasi diriku sendiri supaya tidak terlalu jauh berharap padanya, yang nantinya dapat berdampak ada hubungan kami ketika kami sudah resmi menjadi saudara ipar.
Diskusi serius kami terhenti begitu saja ketika sapaan seseorang di belakangku menginterupsi. “Wah wah wah ternyata kalian sudah saling kenal!”
“Adam, kamu kenapa bisa di sini?” tanya Arleen, menampakkan raut senang yang sangat kentara. Bahkan denganku dia selalu dalam mode ‘saya-Anda’ tapi sekarang?
“Aku mau menyapa kakakku,” jawab Adam bangga sambil menepuk pundakku, “Ini kakakku, Linlin.” Bahkan mereka sudah punya panggilan sayang.
Adam mempersilakan dirinya sendiri duduk di sebelah Arleen bahkan tanpa perlu repot untuk meminta persetujuan kami. Tak lupa mengecup pipi kekasihnya di hadapanku, yang seketika membuat mataku sakit. Mereka berdua berbicara asyik, Arleen terlihat lebih lepas, dan Adam terlihat begitu menyayangi Arleen. Menyadari bahwa kehadiranku hanyalah sebagai pemeran figuran yang sudah tidak diperlukan lagi, aku pun berdeham untuk meminta perhatian kedua pasangan yang sedang dilanda asmara lalu berpamitan untuk pulang duluan.
“Yah, Ga! Malah pulang duluan sih. Gue ke sini emang nggak sengaja ngelihat kalian berdua. Disamperin malah sekarang ditinggal,” kata Adam membuatku memutar bola mata.
“Ayolah, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Aku pergi dulu,” jawabku bersikeras untuk meninggalkan mereka.
“Lo kenapa sih, akhir-akhir ini ketus sama gue. Masak mens lo nggak kelar-kelar sih,” komentar Adam yang seketika membuatku malu luar biasa.
Mengacuhkan Adam, aku pun berkata, “Udah, gue tunggu undangannya. Arleen, saya duluan.” Lalu mulai melangkah pergi.
“Undangan apaan sih?” tanya Adam dengan nada keheranan. Please tidak perlu bertingkahsok bego, Adam.
“Nggak tau, emang siapa yang mau nikah, Dam? Kamu?” tanya Arleen balik, masih dengan suara lembutnya.
“Heh heh woy Ga, ngeloyor aja lo. Duduk lagi sini, gue bingung. Siapa yang mau nikah sih? Orang gue baru aja putus,” kata Adam sembari mendudukkanku kembali ke tempat semula, berhadapan dengan mereka.
Menghela napas dengan lelah, aku pun menjawab, “Ya, undangan kalian berdua.”
Dua detik. Lima detik. Mereka saling berpandangan. Dan .....
Brrrrr. Hahahahaha.
“Gue? Sama Linlin? Nggak bakal lah, Aga, abang gue tercinta. Gue udah kapan kali kenal Linlin, udah kayak adek gue sendiri masak gue nikahin. Incest dong gue.”
Mendengar itu, aku pun bertambah bingung. Kalau Arleen adik Adam berarti? Jangan, jangan sampai terjadi! Sedangkan Arleen yang kupandang hanya tersenyum malu menampakkan rona kemerahan di kedua pipinya. Sepertinya Adam mulai membuat teorinya dan pada saat sudah pada titik kesimpulan mulailah dia berkata, “Gila! Gara-gara ini abang gue sensi? Lo cemburu sama gue, Ga?”
Beberapa pengunjung menatap ke arah meja kami. Aku hanya bisa menahan tangan untuk tidak menepuk kepala kosongnya itu. “Lin, lo harus ngaku ke abang gue! Cepetan!”
“Maksud kalian apa? Saya bingung,” kataku menatap mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Satunya meringis ketawa ketiwi, satunya lagi tersenyum malu-malu.
“Udah, Ga, nggak usah saya saya. Berasa ngomong sama bos gue aja,” candanya. Melihat wanita di sampingnya yang tidak kunjung angkat bicara, Adam pun mewakilkan, “Gini lho, abang gue terganteng. Gue sama Linlin nggak pacaran atau apapun itu yang ada di pikiran lo.”
“Tapi kalian nonton bareng, terus lo juga makcomblangin gue maksudnya apaan?” desakku pada mereka atau lebih tepatnya Adam.
“Nonton kapan? Sering kali, kita nonton, kan emang kalo sama sahabat yang biasa dilakuin ya kalo nggak ngobrol ya nonton. Apa salahnya? Oh pasti lo sotoy ya! Hahaha kasian kasian abang gue! Lah ini tadi gue samperin emang mau gue makcomblangin eh malah jadinya begini.”
“Gue masih nggak paham. Terus pacar lo, Dam?,” kataku.
“Pacar gue lagi di negeri antah berantah, nggak kuat LDR jadi putus deh. Nah gue sama Linlin murni dari dulu juga cuma sahabatan, malah pengen gue ngejadiin dia adek gue.”
“Terus cium pipi tadi?”
“Dibilangin udah biasa kita gituan, biasa aja kali! Linlin ini, yang dulu waktu SMP suka main ke rumah, yang lo ejekin jerawatan,” kata Adam yang sontak membuatku teringat akan gadis remaja dengan banyak jerawat di muka dan rambut dikuncir kuda. “Linlin juga udah dari kapan kali, Ga, suka sama lo!”
Mendengar pengakuan Adam, membuat Arleen menyikut perutnya dengan siku dan Adam mengaduh kesakitan.
“Jadi kamu Arleen. Ya Tuhan kenapa aku bisa lupa,” kataku sambil menepuk kening.
“Ya lo kan pikun!”
“Diem lo!” bentakku pada Adam, lalu kembali lagi pada Arleen, “Arleen, aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, sekarang kamu cantik banget kok,” ujarku tanpa perlu menahan diri untuk merayunya.
“Udah deh gue tinggal kalian berdua,” kata Adam sambil beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pundakku dan berkata, “Abang saya sudah dewasa,” dan pergi sebelum berhasil aku lempar dengan sesuatu. Sangat tidak sopan meniru gaya bicara kakaknya sendiri.
Kembali lagi ke hadapanku, akhirnya aku bisa mendekati Arleen lagi dan semua kegelisahan sirna sudah. Seorang Agara Tanaka sudah tidak sensitif lagi!

Ps :  Ini adalah cerpen hasil kolaborasi aku dan via, fyi kita baru kenal loh saat nulis cerpen ini dan via itu keren bgt nulisnya.

Fajar Putih

Senin, 18 April 2016

Fajar Putih

Ceritanya dapet PR buat deskripsiin yang ada di gambar ini. dan taraam jadilah seperti ini. yaah udah masuk flash fiction lah ya ?


Fajar memang selalu menenangkan hatiku. Langitnya yang indah dan sinarnya yang hangat selalu membuatku terpana akan nikmatNya. Masih ingatkah kau kenangan beachcamp kita dulu?
***

"Ayo, liat sunrise. Banguun!" Pintanya menghampiri tendaku. Aku dan Dita memang tidur di tenda terpisah. 
"Masih pagi, ntar aja yaa" jawabku sembari ngulet
"Gak  mau nanti matahari nya keburu tinggi" rajuk dita manja
"Iyaa bentar" jawabku malas. 
Akhirnya kami berduapun berjalan menyusuri pantai untuk melihat moment matahari terbit ini. Menyusuri jalan sepanjang pantai untuk mencari tempat terbaik melihat momen ini. aah enakan tidur di camp lah pikirku. Namun demi dita apapun akan ku perjuangkan. Demi kekasihku yang telah menjadi bagian hidupku selama 5 tahun ini. Aku memang belum menikah dengan Dita namun aku berjanji akan memperistrinya nanti. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat kami telah melewati roller coaster kehidupan bersama. Bahkan ketika aku berada di titik terendahku dan perempuan ini masih setia menemani. Aku sangat mencintai Dita, bagiku Dita adalah separuh jiwaku. 
"Hen, kita liatnya disini aja yaa" kata dita sambil menghentikan langkahnya. 
"Baiklah" jawabku singkat sambil memperhatikan sekitar. Sepertinya ini memang tempat yang indah untuk melihat sunrise. Tempat ini cukup sepi, matahari terlihat jelas dan diapit dua buah pohon sebagai pemanisnya. Ditambah lagi suara deburan ombak yang masih terdengar jelas. Apalagi ada dita disampingku, sempurna. Ah, mulai saat ini aku akan suka fajar, terimakasih tuhan engkau telah memberikan nikmat yang tak terkira ini. 
"Hen, tempat ini aku namain pohon kita yaa," kata dita 
"Iyaa sayang terserah kamu ajalah" kataku sambil mengusap rambut dita.
"Pokokny kita harus sama-sama terus yaa!" Pinta dita

***
Kurasa fajar tetap akan selalu memenangkan hatiku bahkan jika kamu tidak memilih aku. "Dit, aku sekarang lagi berdiri di pohon kita." Gumamku lirih. 
Mataku masih menatap matahari pagi ini dengan duka yang tak kunjung berakhir. Masih berharap Dita akan membatalkan pernikahannya dengan Rio sahabatku.


Ps : Foto diambil dari google mblusuk.com :)

Dialog Aku, Kamu

Selasa, 16 Februari 2016

Dialog Aku, Kamu



Ketika hujan datang, kamu berteduh
Ketika petir datang, kamu lari
Ketika rintik menari, kamu tak  muncul
Lalu kapan kamu datang?
Ketika ada pelangi, ah sudahlah aku tau jawab mu.

Ketika kamu menangis, aku bahu mu
Ketika kamu terjatuh, aku obat mu
Bahkan ketika kamu tak ada, aku rindu mu
Lalu kapan aku pergi?
Kamu tak bisa jawab, ah sudahlah aku tau kenapa

Akan kah ada dialog antara aku dan kamu?
Ku yakin sekarang hatimu punya jawaban


Depok, 15 Februari 2016

Gadis yang bersenandeng dibawah Pohon

Senin, 02 November 2015

Gadis yang Bersenandung dibawah Pohon



Di bawah pohon rindang itu aku melihatmu
Seorang gadis berpakaian sederhana lengkap dengan warna pastelnya
Lembut sekali seraya menggambarkan kelembutan hatinya
Belum lagi rambut mu yang diterpa angin semilir, ah indahnya

Aku sering bertanya padanya
Kenapa kau sering berdiam disana?
Dan dia menjawab hanya rindu seseorang
Andai kau tau seberapa ingin aku mendengarkan kerinduan mu

Hari ini aku melihatmu dibawah pohon rindang itu
Namun tak seperti biasa
Bukan senyum yang kudapat dari kejauhan
Tapi sendu dari isak tangis tak tertahan

Hai gadis yang masih berada di ruang rindu
Apakah kamu tau seberapa ingin ku menenangkan mu
Seberapa ingin ku memelukmu dan menjadikan bahuku sandaran mu
Seberapa ingin aku menciumimu di saat kau kacau

Hai gadis yang tersenyum dibawah rindangnya pohon
Aku harap suatu nanti aku bisa mengungkapkan nya
Suatu nanti aku bisa menunjukkannya
Bahwa aku telah jatuh hati berkali kali
                                     
Dari Aku yang tak bisa mengungkapkan
Bogor, 28 Oktober 2015